Penbinaan Kompetisi Guru (1)

Pembinaan Kompetensi Guru
Pembinaan adalah usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik (Anton M Moeliono, 1990:117).

Kompetisi guru berkaitan dengan kemampuan guru dalam melaksanakan tugasnya. Peningkatan kompetisi guru dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas hasil belajar siswa.
1. Kompetensi Guru
Beberapa pendapat tentang kompetisi guru, adalah:
a. Kompetisi guru diklasifikasikan atas 2 komponen profesional dan komponen personal dan kemasyarakatan (Buku Paket PPL UNNES, 1997: 139-142).
b. Kompetisi guru dikelompokkan menjadi 3 bidang kognitif, kompetisi bidang sikap, dan kompetisi bidang perilaku/performance (Nana, 1989:18)
c. Kompetisi guru mencakup 10 kompetisi (Sardiman, 2000:123-141).

2. Tingkatan Kualifikasi Profesional Guru
Secara garis besar terdapat tiga tingkatan kualifikasi profesional guru sebagai tenaga profesioanal kependidikan.
a. Tingkatan capable personal, yaitu guru diharapkan memiliki pengetahuan, kecakapan, dan ketrampilan, serta sikap yang lebih mantap dan memadai sehingga mampu mengelola proses belajar mengajar secara efektif.
b. Tingkatan guru juga sebagai inovator, yaitu sebagai tenaga kependidikan yang memiliki komitmen terhadap upaya perubahan dan reformasi. Para guru diharapkan memiliki pengetahuan, kecakapan, dan ketrampilan, serta sikap yang tepat terhadap pembaharuan yang efektif.
c. Tingkatan guru sebagai developer, guru harus memiliki visi keguruan yang mantap dan luas perspektifnya. Guru harus mampu dan mau melihat jauh ke depan dalam menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi oleh sektor pendidikan.

A. msi Dasar Pengembangan Kompetensi Guru
Program pendidikan guru berdasarkan kompetensi (PGBK). Dikembangkan bertolak dari perangkat kemampuan yang diperkirakan dipersyaratkan bagi pelaksanaan tugas-tugas keguruan yang telah ditetapkan, dan bermuara pada peragaan penguasaan perangkat kemampuan tersebut oleh siswa calon guru setelah mengikuti sejumlah pengalaman belajar.
Perangkat kemampuan yang dimaksud, termasuk proses pencapaian, dilandasi oleh asumsi-asumsi, yaitu pernyataan-pernyataan yang dianggap benar, baik atas dasar bukti-bukti empirik, dugaan ahli, maupun nilai-nilai masyarakat berdasarkan Pancasila. Asumsi-asumsi tersebut merupakan batu ujian dalam di dalam menilai perancangan dan pelaksanaan program, maupun untuk mempertahankan program dari penyimpangan-penyimpangan pragmatais ataupun dari serangan-serangan konseptual.
1. Hakikat manusia.
a. Manusia sebagai mahluk Tuhan mempunyai kebutuhan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b. Manusia membutuhkan lingkungan hidup berkelompok untuk mengembangkan dirinya.
c. Manusia mempunyai potensi-potensi yang dapat dikembangkan dan kebutuhan-kebutuhan materi dan spiritual yang harus dipenuhi.
d. Manusia itu pada dasarnya dapat dan harus di didik serta dapat mendidik diri sendiri.

2. Hakekat Masyarakat
a. Kehidupan masyarakat berlandas-kan system nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya yang dianut warga masyarakat, sebagian dari pada nilai-nilai tersebut bersifat lestari dan sebagian lagi terus berubah sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
b. Masyarakat merupakan sumber nilai-nilai yang memberikan arah normative kepada pendidik.
c. Kehidupan masyarakat ditingkatkan kualitasnya oleh insan-insan yang berhasil mengembangkan dirinya melalui pendidikan.

About MTsN Slawi
Sekolah unggul bidang ilmu dan agama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: