Tata Tulis Artikel Ilmiah, Antara Gaya dan Kaidah

Tata Tulis Artikel Ilmiah, Antara Gaya dan Kaidah
Oleh: Mukh Doyin, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unnes

A. Pendahuluan
Ada dua macam artikel ilmiah, yaitu artikel penelitian dan artikel konseptual. Artikel penelitian adalah artikel yang merupakan hasil penelitian, sedangkan artikel konseptual adalah artikel yang berupa gagasan atau ide-ide penulisnya.

Meskipun kedua jenis artikel tersebut berbeda, namun jika dilihat dari tata tulis kebahasaannya tetaplah sama. Artinya, segala ketentuan penulisan yang berlaku pada artikel penelitian juga berlaku pada artikel konseptual.
Bahasa yang digunakan dalam artikel ilmiah adalah bahasa Indonesia ragam ilmiah. Selain ragam ilmiah, dalam bahasa Indonesia juga dikenal ragam undang-undang, ragam jurnalistik, dan ragam sastra.
Ragam undang-undang disebut juga ragam hukum, yaitu bahasa Indonesia yang digunakan pada kalangan hukum atau pada undang-undang. Ragam hukum mempunyai ciri khusus pada pemakaian istilah dan komposisinya. Ragam jurnalistik adalah ragam bahasa yang dipakai dalam dunia jurnalistik. Karena fungsi utama media massa sebagai media informasi, maka ragam bahasa jurnalistik setidaknya harus mempunyai ciri komunikatif, sederhana, dinamis, dan demokratis. Ragam ilmiah adalah ragam bahasa Indonesia yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah. Ragam inilah yang disebut dengan ragam baku. Ragam ini ditandai dengan adanya ketentuan-ketentuan baku, seperti aturan ejaan, kalimat, atau penggunaannya. Dalam bahasa Indonesia kebakuan bahasa dibarometeri oleh Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Tata Bentukan Istilah, Kamus Besar Bahasa Indonesia, dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Ragam sastra adalah bahasa yang digunakan dalam penulisan karya sastra. Ragam sastra mempunyai ciri khusus dengan adanya licencia poetica, yakni kebebasan menggunakan bahasa untuk mencapai keindahan. Oleh karena itu, secara umum bahasa sastra selalu disebut bahasa yang indah.
B. Kaidah Penulisan Artikel Ilmiah
Penulisan artikel ilmiah mengikuti dua kaidah, yaitu kaidah penulisan yang bersifat umum dan kaidah penulisan yang bersifat khusus. Kaidah umum adalah kaidah tentang bahasa Indonesia baku dan ejaan yang berlaku secara umum. Artikel ilmiah ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, yakni bahasa Indonesia yang mengikuti kaidah penggunaan ragam baku keilmuan. Dalam ragam baku keilmuan atau ragam ilmiah itu secara taat asas harus dipilih kata-kata atau istilah yang baku, struktur kata, frasa, klausa, atau kalimat yang baku, susunan wacana dan paragraf yang rasional, dan ditulis dengan ejaan yang benar. Kaidah tata tulis karya ilmiah yang bersifat khusus adalah aturan penulisan karya ilmiah yang bertolak dari konvensi aturan-aturan penulisan yang lebih bersifat teknis yang harus diikuti oleh penulis artikel ilmiah dalam lingkup wilayah tertentu. Kaidah khusus itu meliputi (1) cara menulis sistematika atau judul dan subjudul, (2) cara merujuk atau mengutip, (3) cara menulis daftar pustaka, dan (4) cara menyajikan tabel dan gambar.
2. Perujukan/Pengutipan
Perujukan dilakukan dengan menggunakan nama akhir, tahun, dan halaman buku. Jika ada dua pengarang, perujukan dilakukan dengan cara menyebut nama akhir kedua pengarang tersebut. Jika pengarangnya lebih dari dua orang, penulisan rujukan dilakukan dengan cara menulis nama akhir dari pengarang pertama diikuti dengan dkk. untuk orang Indonesia dan et al. untuk orang asing. Jika nama pengarang tidak disebutkan, yang dicantumkan dalam rujukan adalah nama lembaga yang menerbitkan, nama dokumen yang diterbitkan, atau nama koran/majalah. Untuk karya ilmiah terjemahan, perujukan dilaku¬kan dengan cara menyebutkan nama pengarang aslinya. Ruju¬kan dari dua sumber atau lebih yang ditulis oleh pengarang yang berbeda dicantumkan dalam satu tanda kurung, dibatasi titik koma (;) sebagai tanda pemisahnya. Antara nama pengarang dan tahun tidak diberi tanda koma dan antara tahun, tanda titik dua, dan nomor halaman tidak diberi jarak.

a. Cara Merujuk Kutipan Langsung
Kutipan kurang dari empat baris ditulis di antara tanda petik (“…”) sebagai bagian terpadu dalam teks utama, dan disertai nama pengarang, tahun, dan nomor halaman. Nama pengarang dapat ditulis secara terpadu dalam teks atau menjadi satu dengan tahun dan nomor hala¬man di dalam kurung. Jika ada tanda petik dalam kutipan, digunakan tanda petik tunggal (‘…’).

Contoh:
Soebronto (1990:123) menyimpulkan “ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dan kemajuan belajar”.
Simpulan dari penelitian tersebut adalah “ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dan kemajuan belajar” (Soebronto 1990:123).

Kutipan lebih dari empat baris ditulis tanpa tanda petik pada baris baru, terpisah dari teks yang mendahului, dimulai pada karakter keenam dari garis tepi sebelah kiri, dan diketik dengan spasi tunggal. Jika dalam kutipan terdapat paragraf baru, garis barunya dimulai dengan mengosongkan lima karakter lagi dari tepi garis teks kutipan.

Contoh:
Suyanto (1998:202) menarik simpulan sebagai berikut.
Alih latihan memungkinkan mahasiswa memanfaat¬kan apa yang didapatkan dalam PBM untuk memecahkan persoalan nyata dalam kehidupan. Kemampuan transfer telah dimiliki oleh mahasiswa jika mahasiswa itu mampu menerapkan pengetahuan, keterampilan, informa¬si, dan sebagainya sebagai hasil belajar pada latar yang berbeda (kelas, laboratorium, simulasi, dan sejenisnya) ke latar yang nyata, yaitu kehidupan nyata dalam masyarakat. Jika kemampuan ini dapat dibekalkan kepada mahasiswa, mereka akan memiliki wawasan pencipta kerja setelah lulus dari perguruan tinggi.

Apabila dalam mengutip langsung ada kata-kata dalam kalimat yang dibuang, kata-kata yang dibuang diganti dengan tiga titik. Jika yang dibuang itu kalimat, diganti dengan empat titik.

Contoh:
“Semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah … diharapkan sudah melaksanakan kurikulum baru” (Manan 1995:278).
“Gerak manipulatif adalah keterampilan yang memerlukan koordinasi antara lain mata, tangan, atau bagian tubuh lain …. Yang termasuk gerak manipulatif antara lain adalah menangkap bola, menendang bola, dan menggambar” (Asim 1995:315).

b. Cara Merujuk Kutipan Tidak Langsung
Kutipan yang disebut secara tak langsung atau dike¬mukakan dengan bahasa penulis sendiri ditulis tanpa tanda petik dan terpadu dalam teks. Nama pengarang bahan kutipan dapat disebut terpadu dalam teks, atau disebut dalam kurung bersama tahun penerbitannya. Jika yang dirujuk bagian tertentu, nomor halaman disebutkan. Jika buku dirujuk secara keseluruhan atau yang dirujuk terlalu banyak atau meloncat-loncat, nomor halaman boleh tidak dicantumkan. Perhatikan contoh berikut!
Contoh:
Salimin (1990:13) tidak menduga bahwa mahasiswa tahun ketiga lebih baik daripada mahasiswa tahun keempat.
Dalam buku tata bahasa lama, seperti buku Prijohoetomo (1937) belum dikenal istilah transposisi.
Mahasiswa tahun ketiga ternyata lebih baik daripada maha¬siswa tahun keempat (Salimin 1990:13).

3. Penulisan Daftar Pustaka
Daftar pustaka pada artikel ilmiah ditulis langsung setelah teks berakhir (tidak perlu ganti halaman baru), sedangkan daftar pustaka pada makalah, buku, atau penelitian ditulis dengan berganti halaman baru.
Unsur yang ditulis dalam daftar pustaka secara berturut-turut meliputi: (1) nama pengarang ditulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, dan nama tengah, tanpa gelar akade¬mik, (2) tahun penerbitan, (3) judul, termasuk subjudul, (4) tempat penerbitan, dan (5) nama penerbit. Unsur-unsur tersebut dapat bervariasi bergantung kepada jenis sumber pustaka¬nya.
Contoh:
Dekker, N. 1992. Pancasila sebagai Ideologi Bangsa: Dari Pilihan Satu-satunya ke Satu-satunya Asas. Malang: FPIPS IKIP Malang. (buku dengan satu pengarang)

Doyin, Mukh dan Wagiran Suwito. 2005. Curah Gagasan (Pengantar Penulisan Karya Ilmiah). Semarang: Rumah Indonesia. (buku dengan dua pengarang)

Letheridge, S. dan C.R. Cannon. (Eds.) 1980. Billingual Education: Teaching English as a Second Language. New York: Praeger. (bunga rampai dengan dua editor)

Hasan, M.Z. 1990. Karakteristik Penelitian Kualitatif. Dalam Aminuddin (Ed.). Pengembangan Penelitian Kuali¬tatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Hlm. 12-25. Malang: HISKI Komisariat Malang dan YA3. (artikel dari bunga rampai)

Jawa Pos. 1995. Wanita Kelas Bawah Lebih Mandiri. IV. 2. 22 Juni. Hlm. 3. (Rujukan dari koran tanpa nama pengarang)

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 ten¬tang Sistem Pendidikan Nasional. 1990. Jakarta: Diper¬banyak oleh PT Armas Duta Jaya. (Rujukan dari dokumen pemerintah)

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1978. Pedoman Penulisan Laporan Penelitian. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (Rujukan dari lembaga atas nama lembaga)

Ary, D. L.C. Jacobs, dan A. Razavieh. 1982. Pengan¬tar Penelitian Pendidikan. Terjemahan Arief Furchan. Surabaya: Usaha Nasional. (Rujukan buku terjemahan)

Pangaribuan, T. 1992. Perkembangan Kompetensi Kewacanaan Pembelajaran Bahasa Inggeris di LPTK. Disertasi. IKIP Malang. (Rujukan skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian)
Huda, N. 1991. Penulisan Laporan Penelitian untuk Jurnal. Makalah disajikan dalam Lokakarya ilmiah Penelitian Tingkat Dasar bagi Dosen PTN dan PTS di Malang Angkatan XIV, Pusat Penelitian IKIP Malang, Malang, 12 Juli. (Rujukan makalah)

4. Penyajian Tabel dan Gambar
a. Penyajian Tabel
Penggunaan tabel dapat dipandang sebagai salah satu cara yang sistematis untuk menyajikan data statistik dalam kolom-kolom dan lajur, sesuai dengan klasifikasi masalah. Dengan menggunakan tabel, pembaca akan dapat memahami dan menafsirkan data secara cepat dan mencari hubungan-hubungannya.
Jika suatu tabel cukup besar (lebih dari setengah halaman), tabel harus diletakkan pada halaman tersendiri. Jika tabel cukup pendek (kurang dari setengah halaman) sebaiknya diintegrasikan dengan teks.
Tabel harus diberi identitas (berupa nomor dan nama tabel) dan ditempatkan di atas tabel. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah perujukan. Jika tabel lebih dari satu halaman, bagian kepala tabel (termasuk teksnya) harus diulang pada halaman selanjutnya. Akhir tabel pada halaman pertama tidak perlu diberi garis horisontal. Pada halaman berikutnya, tuliskan Lanjutan tabel … pada tepi kiri, tiga spasi di atas garis horisontal teratas tabel. Judul tabel ditulis dengan menggunakan huruf kapital pada huruf pertama setiap kata kecuali kata tugas. Kata Tabel ditulis di tepi kiri, diikuti nomor dan judul tabel. Jika judul tabel lebih dari satu baris, baris kedua dan seterusnya ditulis sejajar dengan huruf pertama judul dengan jarak satu spasi. Judul tabel tidak diakhiri tanda titik. Jarak antara tabel dengan teks sebelum dan sesudahnya tiga spasi. Nomor tabel ditulis dengan angka Arab sebagai identitas tabel yang menunjukkan nomor urutnya. Nomor urut tabel dimulai dari nomor satu sampai nomor terakhir tabel pada keseluruhan teks dalam satu judul.

b. Penyajian Gambar
Istilah gambar mengacu pada foto, grafik, chart, peta, sket, diagram, dan gambar lainnya. Gambar dapat menyajikan data dalam bentuk-bentuk visual yang dengan cepat dapat dipahami. Gambar tidak selalu dimaksudkan untuk membangun deskripsi, tetapi dapat juga untuk menekankan hubungan tertentu yang signifikan. Gambar juga dapat dipakai untuk menyajikan data statistik berbentuk grafik.
Pedoman penggunaan gambar sebagai berikut.
(1) Judul gambar ditempatkan di bawah gambar, bukan di atasnya seperti tabel. Cara penulisan judul gambar sama dengan penulisan judul tabel.
(2) Gambar harus sederhana untuk dapat menyampaikan ide dengan jelas dan dapat dipahami tanpa harus disertai penjelasan tekstual.
(3) Gambar harus digunakan dengan hemat. Terlalu banyak gambar dapat mengurangi nilai penyajian data.
(4) Gambar yang memakan tempat lebih dari setengah halaman, harus ditempatkan pada halaman tersendiri.
(5) Penyebutan adanya gambar hendaknya mendahului gambar.
(6) Gambar diacu dengan menggunakan nomor gambar (angka), bukan dengan menggunakan kata gambar di atas/gambar di bawah.
(7) Gambar dinomori dengan menggunakan angka Arab seperti pada penomoran tabel.
(8) Judul tabel atau gambar harus diketik pada halaman yang sama dengan tabel atau gambarnya.

C. Penutup
Beberapa hal yang penting diperhatikan oleh serang penyunting kaitannya dengan tugasnya sebagai penjaga “gawang” keredaksionalan jurnal ilmiah adalah sebagai berikut.
(1) Gaya selingkung harus digunakan secara konsisten dalam menampilkan artikel di jurnal.
(2) Tidak boleh ada bagian halaman yang kosong kecuali jika halaman tersebut merupakan akhir karya ilmiah.
(3) Tidak boleh memberi tanda apa pun sebagai tanda berakhirnya sebuah karya ilmiah, termasuk gambar untuk pengisi ruang kosong.
(4) Penyajian rincian numerik handaknya dihindari. Diusahakan perincian dengan penyajian berbentuk esai.

About MTsN Slawi
Sekolah unggul bidang ilmu dan agama

One Response to Tata Tulis Artikel Ilmiah, Antara Gaya dan Kaidah

  1. Pingback: Artikel Pendidikan « ABDUL SAKUR'S BLOG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: