Karya Ilmiah Populer

Karya Ilmiah Populer
Oleh: Mukh Doyin, FBS Universitas Negeri Semarang

Pendahuluan
John P. Riebel dari California State Polytechnic College membagi karangan menjadi dua jenis, yaitu Imaginative Writing dan Factual Writing.

Imaginative Writing merupakan perwujudan dunia subjektif penulisnya dan dimaksudkan untuk membangkitkan suatu perasaan tertentu atau menggerakkan hati pembaca. Factual Writing merupakan rekaman fakta objektif di luar pengarang dan semata-,mata bermaksud menyampaikan informasi kepada pembaca. Fakta adalah segala sesuatu yang dapat dibuktikan atau dirasakan oleh salah satu pancaindra manusia. Jadi, Factual Writing mengandung isi bahan informasi yang memberikan keterangan, penjelasan, atau petunjuk mengenai sesuatu hal kepada para pembaca.
Factual Writing dapat dibagi lagi menjadi dua golongan besar, yaitu Scientific Writing dan Informative Writing. Tergolong dalam Scientific Writing antara lain buku, laporan penelitian, makalah, dan artikel ilmiah, sedangkan yang tergolong dalam Informative Writing berupa berita, kisah perjalanan, riwayat hidup, dan laporan peristiwa.
Jones berpendapat bahwa karangan ilmu pengetahuan itu terbagi menjadi dua macam, yaitu karangan ilmiah dan karangan nonilmiah. Penggolongan karya ilmu pengetahuan ke dalam kedua golongan tersebut didasarkan pada sifat fakta yang disajikan dan cara penulisannya. Karya ilmiah menyajikan fakta umum–fakta yang dapat dibuktikan benar-tidaknya–dan ditulis dengan cara penulisan yang standar, sedangkan karya nonilmiah menyajikan fakta pribadi–fakta yang ada pada diri seseorang atau yang ada dalam batin seseorang yang bersifat subjektif–dan ditulis dengan cara penulisan yang (mungkin) tidak standar.
Scientific Writing (karya ilmiah) adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta yang dapat dibuktikan kebenarannya dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Dari definisi ini, dalam bahasa lain kita juga dapat melihat adanya dua komponen dalam karya ilmiah, yaitu komponen yang menyangkut masalah substansi karya ilmiah itu sendiri (isi karangan) dan komponen yang menyangkut masalah teknik penulisannya.
Masalah substansi menyangkut isi karya ilmiah, yang dalam hal ini dapat berwujud permasalahan, teori yang digunakan, metode, dan pembahasannya; sedangkan komponen tata tulis menyangkut bahasa yang digunakan, penulisan sistematika, penulisan kutipan, penulisan daftar pustaka, penulisan lampiran, penulisan tabel atau skema, dan sebagainya. Dalam hal teknik penulisan ini, hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa penulisan karya ilmiah berbeda sekali dengan penulisan karya kreatif (sastra). Jika penulisan karya sastra merupakan seni, maka penulisan karya ilmiah merupakan teknik. Sebagai sebuah teknik, penulisan karya ilmiah harus mengikuti gaya yang telah ditentukan.
Selain definisi di atas kita juga dapat melihat karya ilmiah dari sudut pandang lain, yaitu bahwa karya ilmiah adalah karya atau karangan yang bersifat ilmiah. Karena kata ilmiah berarti bersifat keilmuan, maka karya ilmiah juga berarti karya keilmuan yang konsekuensinya haruslah memenuhi syarat standar keilmuan, yaitu bersifat objektif, logis, dan teleologis. Objektif berarti sesuai dengan kenyataan, tidak dibuat-buat, dan menampilkan apa yang merupakan hasil serapan, pengalaman, atau pengamatan penulis. Dalam pengertian objektif di sini juga tercakup makna tidak memihak. Logis artinya rasional, sesuai dengan penalaran orang normal, dan mengikuti alur pikir yang universal. Di sini juga berarti memiliki sistematika yang baku, menggunakan aturan-aturan yang ditentukan, dan memiliki bentuk atau model yang dapat dipertanggungjawabkan. Teleologis berarti memiliki tujuan. Artinya, sebuah karya ilmiah haruslah berangkat dari suatu pertanyaan dan hasil uraiannya mencoba menjawab pertanyaan tersebut.
Dari uraian di atas terlihat bahwa karya ilmiah memiliki persamaan sekaligus perbedaan dengan Informative Writing (karya informatif). Persamaan antara karya ilmiah dan karya informatif terletak pada isi atau subsansinya, yaitu sama-sama merupakan fakta umum. Perbedaannya, fakta dalam karya ilmiah merupakan fakta keilmuan, sedangkan fakta dalam karya informatif merupakan fakta peristiwa. Seain itu, cara penyampaiannya juga berbeda. Karya ilmiah disampaikan dengan metode penulisan yang baku, sedangkan karya informatif tidak.
Dalam perkembangan selanjutnya, di antara Scientific Writing dan Informative Writing muncul jenis karangan baru yang kemudian dikenal dengan istilah karya lmiah populer yang secara sederhana dapat diartikan sebagai karya ilmiah yang disampaikan secara populer. Dilihat dari substansinya, karangan tersebut sama dengan karya ilmiah, namun jika dilihat dari teknik penulisannya sama dengan karya informatif.

Langkah Penulisan
Ketika orang akan menulis artikel atau apa pun bentuknya, pikiran pertama yang muncul adalah apa yang harus saya tulis. Jawaban atas pertanyaan tersebut sebenarnya sangat sederhana, yaitu apa saja yang kita ketahui. Modal utama bagi seorang penulis adalah pengetahuan. Bentuknya bisa apa saja. Namun, karena tulisan adalah alat komunikasi, konsep yang terkandung dalam “apa saja” tersebut haruslah yang diterima orang lain.
Dari situlah kemudian kita harus memikirkan “tujuan”. Untuk apa kita menulis. Untuk sebuah koran? Untuk lomba? Untuk “sekadar” berekspresi? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan “apa” yang harus kita tulis. Hal yang sama dituntut oleh berbagai tujuan tersebut adalah sifat masalah yang kita angkat dalam esai: aktual, problematik, universal, dan berefek.
Setelah menentukan masalah—yang sesuai dengan tujuan menulis—langkah berikutnya adalah memilih gaya. Berbagai gaya dapat kita pilih: dialog, paparan, deduksi, induksi, analogi, dan sebagainya. Pemilihan gaya ini juga disesuaikan dengan tujuan semula.
Topik dan gaya merupakan modal awal dalam menulis. Jika kita sudah berada pada posisi demikian, langkah selanjutnya tinggal mencurahkan gagasan tersebut ke dalam tulisan. Jangan kita berpikir tentang kata dan kalimat yang benar dalam proses menulis. Kita hanya berpikir apa dan bagaimana mengeluarkan yang ada dalam pikiran ke dalam bentuk tulisan.
Berbicaa tentang apa yang ada dalam pikiran, akan sangat bergantung kepada sejauh mana pikiran kia “bergaul” dengan sumber-sumber masalah dan upaya pemecahannya. Dialog dengan orang lain, membaca buku, mengikuti seminar atau pelatihan, dan kegiatan-kegiatan semacamnya merupakan langkah dalam meng-gaul-kan pikiran. Melalui cara demikian, pikiran kita akan kaya dengan persoalan-persoalan dan pikiran kita juga akan kaya dengan alternatif-alternatif pemecahan masalah tersebut.
Dengan demikian, persoalan menulis sebenarnya merupakan penggabungan dua persoalan, yaitu persoalan kekayaan pikiran dan persoalan melahirkan kekayaan tersebut. Ketiadaan salah satu dari kedua hal tersebut akan menentukan kualitas tulisan kita. Meskipun pikiran kita kaya dengang persoalan dan alternatif pemecahannya, kalau kita tidak memiliki cara yang baik dalam melahirkan pikiran tersebut; atau sebaliknya, tulisan kita tidak akan berterima. Itulah mengapa sering ada orang mengatakan modal bagi seorang penulis adalah membaca. Antara menulis dan membaca tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Kadang orang tidak sadar menyatukan antara menulis dan menyunting. Meskipun bukan kesalahan besar bagi sebagian orang, namun langkah tersebut merupakan kesalahan besar bagi pemula. Substansi menulis dan menyunting berbeda. Menulis berarti mencurahkan gagasan, ide, pendapat, pikiran, atau apa saja dalam bentuk tulisan, sedangkan menyunting berarti “menata” tulisan menjadi komunikatif dan berterima.
Penyunting adalah jembatan yang menghubungkan antara penulis dan pembaca. Ia bertugas untuk “mengemas” tulisan seseorang agar menjadi lebih berterima pada pembaca. Karena itu, pengetahuan akan isi dan bahasa sebuah tulisan, juga pengetahuan akan kondisi calon pembaca menjadi amat penting. Sebab, tanpa pengetahuan akan keduanya, bisa jadi penyunting justru tidak menjembatani, tetapi menjauhkan tulisan seseorang dari pembacanya.
Menyunting tulisan sendiri tidak berbeda jauh dengan menyunting tulisan orang lain. Pada saat menyunting tulisan sendiri, seorang penulis tidak lagi berfungsi sebagai penulis, tetapi berfungsi sebagai penyunting. Yang menjadi penekanan dalam melaksanakan pekerjaannya itu adalah membayangkan apa yang dimaui oleh pembaca (penerbit, surat kabar, atau perseorangan) pada tulisan yang disuntingnya. Dengan demikian, yang menjadi ukuran isi dan bahasa tulisannya tersebut adalah isi dan bahasa yang dikehendaki okeh pembacanya.
Tugas utama penyunting adalah mengolah tulisan atau naskah hingga layak terbit sesuai dengan patokan pembakuan yang digariskan dan dipersyaratkan. Dengan demikian, selain pengetahuan yang memadai, ketelitian dan kesabaran sangat dibutuhkan oleh seorang penyunting. Jika tugas penyunting menyangkut isi dan bahasa tulisan, pengetahuan akan isi dan hal-hal yang menyangkut bahasa tulisan mutlak diperlukan. Persoalan bahasa biasanya tidak sekadar menghendakai penguasaan ejaan, tetapi juga ketelitian dan kecermatan dalam mengoreksi.
Menyunting tulisan sendiri lebih menekankan pada kelengkapan isi dan bahasa tulisan. Toleransi panjang-pendeknya tulisan merupakan tugas pertama yang harus dilakukan. Setelah itu faktor kebahasaan juga harus diperhatikan.

Bentuk Karya Ilmiah Populer
1. Artikel
Sejak tahun 1980 para jrnalis Amerika sepakat untuk memaknai istilah artikel bagi tulisan yang terutama berisi sikap atau pendirian yang disertai alasan dan bukti sebagai pendukung pendirian itu. Jadi, artikel dapat diartikan sebagai tulisan yang isinya fakta berikut masalah (yang tidak hanya satu tetapi beberapa sekaligus yang saling terkait) yang diikuti pendirian subjektif yang disertai argumentasi berdasarkan teori keilmuan dan bukti yang mendukung pendirian itu. Pendirian ini biasanya dikemukakan oleh pakar di bidang keilmuan tertentu. (Bersambung)

About MTsN Slawi
Sekolah unggul bidang ilmu dan agama

2 Responses to Karya Ilmiah Populer

  1. Pingback: Artikel Pendidikan « ABDUL SAKUR'S BLOG

  2. Pingback: Artikel Pendidikan « ABDUL SAKUR'S BLOG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: